Minggu, 25 Maret 2018

Pendekatan Pembelajaran : Pendekatan Pembelajaran Terbalik (Reciprocal Teaching)

PENDAHULUAN

                       Dalam pembelajaran ada banyak model, metode dan pendekatan dalam pembelajaran. Jerome bruner dalam Robert dan Kapuk Kaput, 1999 bahwa belajar adalah suatu proses aktif di mana siswa membangun atau mengkonstruksi pengetahuan baru berdasarkan pada pengalaman atau pengetahuan yang sudah dimilikinya dalam pandangan konstruktivisme belajar bukanlah semata-mata mentransfer pengetahuan yang ada di luar dirinya melainkan belajar lebih pada bagaimana otak memproses dan menginterpretasikan pengalaman yang baru dan pengetahuan yang sudah dimilikinya dengan format yang baru, proses-proses pembangunan ini bisa melalui asimilasi atau akomodasi (McMahon : 1999)

sumber : https://en.wikipedia.org/wiki/File:Jerome_Bruner_1936.png


                       Hakikat mengajar unsur terpenting dalam mengajar ialah merangsang serta mengarahkan siswa belajar mengajar pada hakikatnya tidak lebih dari sekedar menolong para siswa untuk memperoleh pengetahuan keterampilan sikap serta ide dan apresiasi yang menjurus kepada perubahan tingkah laku dan pertumbuhan siswa Subianto dalam bukunya halaman 30.


https://tenor.com/view/teach-teaching-teacher-school-robin-williams-gif-4712514


                     Sehingga guru memerlukan salah satu aspek yang penting untuk membuat proses pembelajaran yang baik di dalam kelas. Di era ini, pembelajaran paradigma pembelajaran sudah berubah di mana dahulu hanya guru yang memberikan ilmu dan berperan aktif dalam pembelajaran atau istilah lainnya guru yang menyuapi peserta didik (student center) tanpa peserta didik terlibat aktif dan ikut mengeksplorasikannya sehingga dapat lebih melekat/mengena di sanubari peserta didik sehingga dapat menjadi Long Term Memory (LTM).


https://www.pinterest.com/pin/436638126353885029/



PENDEKATAN PENGAJARAN TERBALIK (REClPROCAL TEACHING)

        Pengajaran terbalik merupakan satu pendekatan terhadap pengajaran siswa akan strategi belajar. Pengajaran terbalik adalah pendekatan konstruktivis yang berdasar pada prinsipprinsip pembuatan/ pengajuan pertanyaan, di mana keterampilan metakognitif diajarkan melalui pengajaran langsung dan pemodelan oleh guru untuk memperbaiki kinerja membaca siswa yang membaca pemahamannya ”rendah (Nur dan Wikandari, 2000: 16). 

https://mslwheeler.wordpress.com/2017/03/01/self-verbalization-reciprocal-teaching/

         Dengan Pengajaran terbalik guru mengajarkan siswa keterampilan kognitif penting dengan menciptakan . pengalaman belajar, melalui pemodelan perilaku tertentu dan kemudian membantu siswa mengembangkan keterampilan tersebut atas usaha mereka sendiri dengan pemberian semangat, dukungan, dan suatu sistem scaffolding (Ann Brown, dan Annemarie Palincsar, dalam Nur, 2000: 48).

https://creativewritingandeducation.wordpress.com/2017/04/03/improving-students-reading-using-reciprocal-teaching/

                 Pengajaran terbalik terutama dikembangkan untuk membantu guru menggunakan dialog belajar yang bersifat kerja sama untuk mengajarkan pemahaman bacaan secara mandiri di kelas. Melalui pengajaran terbalik siswa diajarkan empat strategi pemahaman pengaturan diri spesifik, yaitu perangkuman, pengajuan pertanyaan, pengklarifikasian, dan prediksi. Penggunaan pendekatan ini dipilih karena beberapa sebab, antara lain:
  1. Merupakan kegiatan yang secara rutin digunakan pembaca.
  2. Meningkatkan pemahaman maupun memberi pembaca peluang untuk memantau pemahaman sendiri.
  3. Merupakan kegiatan yang secara rutin digunakan pembaca.
  4. Meningkatkan pemahaman maupun memberi pembaca peluang untuk memantau pemahaman sendiri.



LANGKAH-LANGKAH PEMBELAJARANNYA


                    Prosedur pengajaran terbalik dilakukan pertama-tama dengan guru menugaskan siswa membaca bacaan dalam kelompok kecil, kemudian guru memodelkan empat keterampilan (mengajukan pertanyaan yang bisa diajukan merangkum bacaan, mengklarifikasi poin poin yang sulit, berat, ataupun salah, dan meramalkan apa yang akan ditulis pada bagian bacaan berikutnya) (Nur, 2000:49).

                   Selanjutnya, guru menunjuk seorang siswa untuk menggantikan peranannya sebagai guru dan bertindak sebagai pemimpin diskusi dalam kelompok tersebut, dan guru beralih peran dalam kelompok tersebut Sebagai tersebut, dan guru beralih peran dalam kelompok tersebut sebagai motivator, mediator, pelatih, dan memberi dukungan, umpan balik, serta semangat bagi siswa. Secara bertahap dan berangsur-angsur guru mengalihkan tanggung jawab pengajaran yang lebih banyak kepada siswa dalam kelompok, serta membantu memonitor berpikir dan strategi yang digunakan.




http://krishamstroschine.wikispaces.com/reciprocal+teaching


1. Memperkenalkan Pengajaran Terbalik

          Pada awal penerapan pengajaran terbalik guru memberitahukan akan memperkenalkan suatu pendekatan strategi belajar, menjelaskan tujuan, manfaat, dan prosedurnya. Selanjutnya mengawali pemodelan dengan membaca satu paragraf suatu bacaan kemudian menjelaskan dan mengajarkan bahwa pada saat atau selesai membaca terdapat kea giatan yang harus dilakukan, yaitu:

a. Memikirkan pertanyaan penting yang dapat diajukan dari apa yang telah dibaca; berkenaan dengan wacana, dan memastikan bisa menjawabnya.
https://id.pinterest.com/pin/48835977182387503/

b. Membuat ikhtisar/rangkuman tentang informasi terpenting dari wacana.
https://www.pinterest.com/pin/743868063421757143/

c. Memprediksi/meramalkan apa yang mungkin akan dibahas selanjutnya.
https://www.tes.com/lessons/nG5euqIJOaNrgw/reciprocal-teaching

d. Mencatat apabila ada hal-hal yang kurang jelas atau tidak masuk akal dari suatu bagian, selanjutnya memeriksa apakah kita bisa berhasil membuat hal-hal itu masuk akal (Nur dan Wikandari, 2000: 20).


            Setelah siswa memahami keterampilan di atas, guru akan menunjuk seorang siswa untuk menggantikan perannya dalam kelompok tersebut. Mula-mula ditunjuk siswa yang memiliki kemampuan memimpin diskusi, selanjutnya secara bergilir setiap siswa merasakan/ melakukan peran sebagai guru. Setelah sesi perkenalan berakhir, guru menjelaskan kepada siswa mengapa, kapan, dan bagaimana strategi tersebut digunakan.



   
https://id.pinterest.com/pin/431430839276239023/
2. Prosedur Harian
 



from youtube.com

     “Dalam tahap kelanjutan pelaksanaannya Pengajaran Terbalik melalui prosedur harian sebagai berikut: (Nur dan Wikandari, 2000: 22)

1. Disediakan teks bacaan. sesuai materi yang hendak diselesaikan. '

2. Dijelaskan bahwa pada segmen pertama guru bertindak sebagai guru (model).

3. Siswa diminta membaca dalam hati bagian teks yang ditetapkan. Untuk memudahkan mula-mula bekerja paragraf demi paragraf.

4. ]ika siswa telah menyelesaikan bagian pertama, dilakukan pemodelan berikut ini:

      a.  Pertanyaan yang saya perkirakan akan ditanyakan guru adalah:
      b. Guru memberikan kesempatan siswa menjawab pertanyaan tersebut.
          Bila perlu mereka boleh mengacu pada teks dengan kalimatnya sendiri
     c. Merangkum pokok pikiran yang terdapat dalam paragraf/subbab.
         Bila perlu dapat menunjuk salah seorang siswa untuk membacakan rangkumannya.
     d. Memberikan kesempatan siswa untuk memprediksikan hal yang akan dibahas pada paragraf
         selanjutnya.
     e. Memberikan kesempatan siswa mengajukan komentar atau menemukan hal yang tidak jelas pada
         bacaan.

5. Siswa diminta untuk memberikan komentar tentang pengajaran yang baru berlangsung dan mengenai bacaan.

6. Segmen berikutnya dilanjutkan dengan bagian bacaan/paragraf berikutnya, dan dipilih satu siswa yang akan berperan sebagai “guru-siswa”.

7. Siswa dilatih/ diarahkan berperan sebagai “guru-siswa” sepanjang kegiatan itu. Mendorong siswa lain untuk berperan serta dalam dialog, namun selalu memberi “guru-siswa”itu untuk kesempatan memimpin dialog. Memberikan banyak umpan balik dan pujian kepada “guru-siswa” untuk peran sertanya.

8. Pada hari-hari berikutnya, semakin lama guru mengurangi peran dalam dialog, sehingga “guru-siswa” dan siswa lain itu berinisiatif sendiri menangani kegiatan itu. 


Kelebihan dan Kekurangannya

Kelebihan Reciprocal Teaching
  1. Melatih kemampuan peserta didik belajar mandiri, sehingga peserta didik dalam belajar mandiri dapat ditingkatkan
  2. Melatih peserta didik untuk menjelaskan kembali materi yang dipelajari kepada pihak lain. Dengan demikian penerapan pembelajaran ini dapat dipakai untuk melatih peserta didik tampil di depan umum
  3. Orientasi pembelajaran adalah investigasi dan penemuan yang pada dasarnya adalah pemecahan masalah. Dengan demikian kemampuan bernalar peserta didik juga semakin berkembang
  4. Mempertinggi kemampuan peserta didik dalam memecahkan masalah.


Kelemahan Reciprocal Teaching
Reciprocal teaching menuntut peserta didik untuk selalu aktif dalam kegiatan pembelajaran, sehingga hal ini menjadikan sebagian dari peserta didik tidak percaya diri untuk dapat tampil atau menunjukkan kemampuannya di depan teman-teman mereka, dan bisa jadi peserta didik yang aktif hanyalah orang-orang itu saja. Dengan demikian, peserta didik yang belum bisa percaya diri merasa kesulitan dalam menerima pelajaran.

Referensi Makalah®
Kepustakaan:

Amin Suyitno, Dasar-dasar dan Proses Pembelajaran Matematika 1, (Semarang: UNNES, 2001). Trianto, Mendesain Model Pembelajaran Inovatif Progresif: Konsep Landasan dan Implementasinya, (Jakarta: Kencana, 2010).


Hasil Penelitian Terkait Reciprocal Teaching 

https://www.slideshare.net/evansjenb/reciprocal-teaching-day-1-45540155


Pengaruh Model Pembelajaran Reciprocal Teaching terhadap Pemahaman Bacaan Ditinjau dari Konsep Diri Akademik Siswa
Oleh: Ni Ketut Noriasih
Prodi Bahasa Konsentrasi Bahasa Indonesia


mengatakan bahwa :
Pertama, terdapat perbedaan pemahaman bacaan antara siswa yang mengikuti model pembelajaran reciprocal teaching dibandingkan dengan yang mengikuti model pembelajaran konvensional pada siswa kelas VII SMP Lab. Undiksha Singaraja (F=5,584; p< 0,05). Rata-rata pemahaman bacaan siswa yang mengikuti model pembelajaran reciprocal teaching sebesar 57,41 lebih tinggi dibandingkan dengan yang mengikuti model pembelajaran konvensional yaitu sebesar 51,59. 

Kedua, pada siswa yang memiliki konsep diri tinggi tidak terdapat perbedaan pemahaman bacaan siswa antara siswa yang mengikuti model pembelajaran reciprocal teaching dan model pembelajaran konvensional pada siswa kelas VII SMP Lab. Undiksha Singaraja (F= 1,697; p>0,05). Rata-rata pemahaman bacaan siswa yang mengikuti model pembelajaran reciprocal teaching sebesar 58,61 lebih tinggi dibandingkan dengan yang mengikuti model pembelajaran konvensional yaitu sebesar 52,22.

Ketiga, pada siswa yang memiliki konsep diri rendah terdapat perbedaan pemahaman bacaan siswa antara yang mengikuti model pembelajaran reciprocal teaching dengan yang mengikuti model pembelajaran konvensional pada siswa kelas VII SMP Lab. Undiksha Singaraja (F=4,565; p<0,05). Rata-rata pemahaman bacaan siswa yang mengikuti model pembelajaran reciprocal teaching sebesar 55,55 lebih tinggi dibandingkan dengan yang mengikuti model pembelajaran konvensional yaitu sebesar 46,94.

       Hal ini dapat dikatakan bahwa model pembelajaran reciprocal teaching lebih unggul dibandingkan model pembelajaran konvensional dalam meningkatkan pemahaman bacaan siswa, baik untuk kelompok konsep diri tinggi maupun konsep diri rendah. 

berdasarkan penelitian lainnya:


PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN RECIPROCAL TEACHING UNTUK MENINGKATKAN PEMAHAMAN KONSEP MATEMATIKA SISWA KELAS VII SMP NEGERI 2 DEPOK
Tatag Bagus Argikas , Nanang Khuzaini
Prodi Pendidikan Matematika Fakultas Ilmu Keguruan dan Pendidikan, 
Universitas Mercu Buana

Yogyakarta, 1argikas@gmail.com
mengatakan bahwa :
1. Pembelajaran dengan model Reciprocal Teaching yang dapat meningkatkan pemahaman konsep matematika siswa kelas VII SMP Negeri 2 Depok adalah dengan mengelompokkan siswa dan diskusi kelompok, membuat pertanyaan, menyajikan hasil kerja kelompok, mengklarifikasi permasalahan, menyimpulkan materi yang dipelajari, memberikan soal test. 

2. Penggunaan model pembelajaran Reciprocal Teaching dapat meningkatkan pemahaman konsep matematika siswa kelas VIIA SMP Negeri 2 Depok khususnya pada materi Segitiga dan Segiempat. Rata-rata pemahaman konsep matematika siswa pada tes pra penelitian dari nilai UTS yaitu 72,19 dan sebesar 45,16% siswa, nilai rata-rata tes pemahaman konsep tindakan mengalami peningkatan pada siklus I yaitu dengan rata-rata pemahaman konsep 75,61 dan sebesar 70,96% siswa, dan rata-rata pemahaman konsep meningkat lagi pada siklus II yaitu menjadi 88,58 dan sebesar 90,32% siswa. 

Adapun peningkatan persentase pemahaman konsep dari masing-masing indikator. Persentase indikator menyatakan ulang sebuah konsep meningkat dari 86,02% menjadi 89,24%, persentase indikator mengklasifikasikan obyek-obyek menurut sifat-sifat tertentu (sesuai dengan konsepnya) meningkat dari 78,09% menjadi 80,10%, persentase indikator memberi contoh dan non-contoh dari konsep meningkat dari 84,95% menjadi 89,24%, persentase indikator menyajikan konsep dalam berbagai bentuk representasi matematis meningkat dari 89,03% menjadi 90,86%, persentase indikator mengembangkan syarat perlu atau syarat cukup suatu konsep meningkat dari 62,10% menjadi 86,02%, persentase indikator menggunakan, memanfaatkan, dan memilih prosedur atau operasi tertentu meningkat dari 79,57% menjadi 90,05%, persentase indikator mengaplikasikan konsep atau algoritma pemecahan masalah meningkat dari 75,48% menjadi 89,35% 


Daftar Pustaka

doc. pribadi


  1. Al-Tabany, Trianto Ibnu Badar. 2014. Mendesain Model Pembelajaran Inovatif, Progresif, dan Kontekstual. Jakarta: Prenadamedia Group. 
  2. http://ejurnal.mercubuana-yogya.ac.id/index.php/mercumatika/article/download/186/208
  3. https://media.neliti.com/media/publications/206795-pengaruh-model-pembelajaran-reciprocal-t.pdf
  4. http://www.referensimakalah.com/2013/04/Kelebihan-dan-kekurangan-Reciprocal-Teaching-Model.html

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

IMPIANKU

Bismillahirrahmanirrahim.. Pagi itu, 25 September 2019. Pagi-pagi sekali aku dan keluargaku sudah bangun, yaitu sekitar jam 3. Hari ...