In 2013, I was in the first grade in senior high
school. I interested to join in Rohis. Rohis(rohani islam) is an
extracurricular that explain and learn about islam. My reason to join that
extracurricular was I want to improve my religious knowledge. In the beginning,
I don’t know how to join that group because I was the only girl from my class want to join Rohis and I don’t know anyone. But I
make myself brave to join that extracurricular.
I
followed so many activities from that extracurricular. Such as, get more
knowledge about my religion and be a part of committee for PHBI (perayaan hari
besar Islam). I was active in that group in every Friday and I enjoyed my duty
as a member of that group. In the next year, in 2014. I was in second grade. I
followed the training leadership in Rohis. I was a leader in the group. I
always say to my members “we have to be cohesive and we can be the best group, fighting!”.
But actually, I felt so nervous. I always thinking “can I do this well? Oh god,
please help me to do this”. My senior asked me “what will you do if you be a
leader of keputrian? Can you held keputrian Akbar? “. I said optimistically
“yes, I sure with every risk”. I was the leader of keputrian. Every day we busy
to make design of keputrian Akbar event. We sold foods in the class to get
money for that event. We did it with all effort and Keputrian Akbar was success.
I
am so grateful because the program was success. This is so really meant to me
and other members. With this we learn how to be a good person in social life. I
learn, Just sure you can and do it with your heart and it’ll happen.
Dalam pembelajaran ada
berbagai macam metode pembelajaran seperti ceramah, diskusi, dan lain-lain. Ada
satu metode yang sering di gunakan oleh guru untuk mengajar yaitu metode
pemberian tugas. Metode yang lumrah digunakan oleh guru untuk melatih dan
mempertajam penguasaan materi untuk peserta didik.
Di era dulu, pemberian tugas kerap dipandang sebagai upaya guru untuk
menyelesaikan materi pelajaran yang tidak selesai diajar-v kan di kelas; guru
meminta siswa untuk mempelajari sendiri materi yang belum sempat dijelaskan di
kelas.
Pengertian Pemberian Tugas
Pemberian tugas adalah salah satu
bagian dari rangkaian kegiatan belajar yang berkesinambungan dan terencana
dengan baik. Metode ini juga dikenal dengan istilah resitasi (penugasan).
1.Menurut Djamarah dan Aswan Zain,
metode resitasi (penugasan) adalah metode penyajian bahan di mana guru
memberikan tugas tertentu agar siswa melakukan kegiatan belajar.
2.Sementara Mulyani Sumantri dkk,
mengemukakan bahwa "Metode pemberian tugas atau penugasan diartikan
sebagai suatu cara interaksi belajar mengajar yang ditandai dengan adanya tugas
dari guru untuk dikerjakan peserta didik di sekolah ataupun di rumah secara
perorangan atau berkelompok.”
Dalam proses pembelajaran,
pemberian tugas sangat perlu dilakukan oleh guru, tugas tidak selalu berarti
pekerjaan rumah (PR), karena penugasan ini bisa berupa penugasan yang bisa
dilakukan di taman, di kebun, di took, atau di mana saja sesuai dengan petunjuk
dan keperluan penugasan. Tugas perlu diberikan karena strategi inkuiri menitik
beratkan pada keaktifan siswa dalam mencari sendiri kebenaran-kebenaran ilmiah.
Oleh karenanya tugas yang diberikan
oleh guru sebaiknya bersifat pencarian kebenaran, yakni dengan melakukan
penelitian-penelitian baik secara individual maupun secara kelompok yang
dilakukan secara mandiri oleh siswa. Dengan begitu siswa tidak hanya
mendapatkan jawaban dari suatu masalah yang diberikan namun juga mendapat
banyak pengetahuan selama proses pengerjaan tugas.
#Yuk lebih dalam membahas tentang
metode pemberian tugas#
Memberi tugas kepada siswa bukan
lagi dikarenakan materi belum selesai dibahas di kelas, tetapi karena pemberian
tugas adalah bagian dari metode belajar. Dengan bekal teori dan hipotesis yang
didapat di kelas, siswa diharapkan mampu mengembangkan teori dan hipotesis
tersebut melalui kegiatan penugasan.
Oleh karenanya, memberikan tugas
masih termasuk dalam metode pembelajaran. Sebagai sebuah metode, pemberian
tugas memiliki 3 unsur pokok, yaitu:
Pengembangan wawasan: siswa
memiliki kesempatan untuk mengembangkan materi atau informasi yang mereka
dapatkan di kelas. Guru bertugas untuk mengawasi proses ini untuk memastikan
bahwa siswa mengerjakan tugas sesuai dengan ketentuan-ketentuan yang berlaku;
https://goanimate4schools.com/
Menemukan dan mempelajari hal baru:
melalui penugasan, siswa sebenarnya sedang belajar banyak hal baru, karena dari
penugasan inilah siswa akan memiliki penemuan-penemuan yang akan terus mereka
pelajari layaknya sistem snowballing;
yakni memulai belajar dari fokus yang kecil kemudian membesar seiring dengan
temuan-temuan yang dijumpai siswa selama mengerjakan tugas dari guru;
Tanggung jawab: melaporkan atau
mempertanggungjawabkan hasil pekerjaan/tugas tersebut.
Langkah-Langkah Pemberian Tugas
Pemberian tugas yang diberikan di
luar sekolah agar supaya penggunaan metode pemberian tugas di luar sekolahan
dapat dikerjakan dengan tertib dan efektif, perlu langkah-langkah sebagai
berikut:
Membicarakan/menilai tugas atau pekerjaan
rumah pada jam tatap muka sebelumnya, apabila tugas atau pekerjaan rumah itu
berhubungan dengan bahan yang akan diajukan
Mengulangi bahan yang lampau dan
mencoba menghubungkannya dengan bahan yang akan diajarkan
Membangkitkan perhatian siswa dengan
mengajukan pertanyaan, menunjukkan gambar atau model yang berkaitan dengan
bahan baru yang akan dikerjakan.
Langkah Inti
Guru memberi kesempatan pada siswa
untuk mengajulan pertanyaan yang berhubungan dengan pelajaran yang sudah
dipersiapkan sebelumnya maupun yang sedang dibahas.
Pertanyaan siswa tersebut diajukan
kepada seluruh siswa agar dipecahkan dan guru apabila diperlukan menjembatani
untuk menemukan jawaban tersebut.
Guru mulai memasuki bahan materi
baru kepada siswa sesuai dengan topik yang telah disiapkan melalui tugas-tugas
yang sebelumnya dipersiapkan untuk siswa.
Siswa mulai aktif melaksanakan
tugas-tugas yang dihadapi ditunjang/dijembatani oleh guru apabila mengalami
beberapa kesalahan.
Apabila tugas-tugas tersebut belum
selesai guru memerintahkan kepada siswa agar diselesaikan di rumah sebagai
pekerjaan rumah boleh sendiri-sendiri, boleh berkelompok sesuai dengan
tugas-tugas tersebut.
Guru menjembatani para siswa kepada
jawaban yang benar, memberikan kesimpulan dan penilaian terhadap situasi yang
terlibat dalam kegiatan belajar mengajar.
Pemberian tugas yang diberikan di
sekolah dalam proses belajar mengajar.
https://www.youtube.com/watch?v=F7ptOfefC9c
Metode Pemberian Tugas di Kelas
Fase da|am Pemberian Tugas
Agar pemberian tugas berjalan
dengan efektif dan efisien berikut adalah fase-fase yang harus diikuti :
Fase pemberian tugas
Tujuan yang akan dicapai;
Jenis tugas yang jelas dan tepat;
Sesuai dengan kemampuan siswa;
Ada petunjuk/sumber yang dapat
membantu pekerjaan siswa;
Sediakan waktu yang cukup untuk
mengenakan untuk tersebut.
Fase
pelaksanaan tugas
Diberikan bimbingan/ pengawasan
oleh guru;
Diberikan dorongan sehingga anak
mau bekerja;
Diusahakan/dikerjakan oleh siswa
sendiri, tidak menyuruh orang lain;
Dianjurkan agar siswa mencatat
hasil-hasil yang ia peroleh.
Fase
mempertanggungjawabkan tugas
Laporan siswa baik lisan/ tertulis
dari apa yang dikerjakannya;
Ada tanya jawab/diskusi kelas;
Penilaian hasil pekerjaan siswa
baik dengan tes maupun non tes.
Kelebihan dan Kekurangan Metode
Pemberian Tugas
Sebagai sebuah metode dalam pengajaran,
pemberian tugas memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing, antara
lain:
Memberi kesempatan kepada siswa
untuk belajar lebih banyak; dalam proses mengerjakan tugas, siswa sangat
mungkin akan berhadapan atau bahkan menemukan hal baru, yakni hal yang belum
pernah dipelajari di kelas. Hal ini dapat mendorong siswa untuk belajar lebih
banyak hal lagi, karena semakin banyak menemukan hal baru, berarti semakin seru!
Memperkuat motivasi belajar;
penugasan rupanya juga dapat membangkitkan semangat siswa untuk lebih giat
belajar, apalagi jika tugas yang diberikan sesuai dengan kebutuhan siswa Oleh
karenanya guru harus mengerti betul apa yang dibutuhkan oleh siswa. Dalam
praktiknya, guru dapat menawarkan jenis dan sifat penugasan kepada siswa.
Biarkan mereka memilih jenis penugasan yang mereka inginkan, lalu pastikan
bahwa mereka telah memiliki pemahaman yang baik tentang jenis dan sifat dari
penugasan tersebut sebelum akhirnya mengabulkan permintaan siswa;
Memupuk rasa tanggung jawab;
menerima penugasan dari guru berarti menerima tanggung jawab untuk mengerjakan
tugas tersebut sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Melalui penugasan, Siswa
didorong untuk belajar menjaga fokus serta membagi waktu. Sehingga tugas dapat
diselesaikan dengan baik dan tidak melebihi ketentuan waktu pengerjaan (tidak
melewati deadline);
Memperkuat motivasi belajar;
penugasan rupanya juga dapat membangkitkan semangat siswa untuk lebih giat
belajar, apalagi jika tugas yang diberikan sesuai dengan kebutuhan siswa? Oleh
karenanya guru harus mengerti betul apa yang dibutuhkan oleh siswa. Dalam
praktiknya, guru dapat menawarkan jenis dan sifat penugasan kepada siswa.
Biarkan mereka memilih jenis penugasan yang mereka inginkan, lalu pastikan
bahwa mereka telah memiliki pemahaman yang baik tentang jenis dan sifat dari
penugasan tersebut sebelum akhirnya mengabulkan permintaan siswa;
Mengembangkan keberanian untuk
berinisiatif; jenis; Penugasan yang tidak kaku dapat membantu Siswa untuk
memunculkan ide-ide kreatif dalam menyelesaikan tugas yang diberikan. Sehingga
siswa dapat menyelesaikan penugasan ini bukan hanya dengan baik, tetapi juga
sangat menarik. Selain itu, jenis penugasan yang tidak kaku cenderung mendorong
siswa untuk berani berinisiatif, siswa bebas melakukan eksplorasi
Dapat memupuk rasa percaya diri
sendiri; ketika siswa berhasil menyelesaikan tugas yang diberikan guru dengan
baik, maka saat itulah rasa percaya diri siswa bertambah. Siswa merasa menjadi
lebih mengenali bakat dan kelebihan yang ada pada dirinya. Oleh karenanya, guru
sebaiknya tidak memberikan tugas yang kaku, yakni jenis penugasan yang tidak
membuka ruang kreatif bagi siSwa. Guru seharusnya mendorong kreativitas siswa,
sekaligus mengarahkan agar kreativitas tersebut selalu digunakan dan
dikembangkan untuk hal-hal yang positif saja.
Memupuk rasa tanggung jawab; menerima penugasan dari guru berarti menerima tanggung jawab untuk mengerjakan tugas tersebut sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Melalui penugasan, Siswa didorong untuk belajar menjaga fokus serta membagi waktu. Sehingga tugas dapat diselesaikan dengan baik dan tidak melebihi ketentuan waktu pengerjaan (tidak melewati deadline);
Memerlukan pengawasan yang ketat
baik oleh guru maupun orangtua. Pengawasan ini berfungsi untuk memantau serta
membimbing siswa dalam mengerjakan tugas yang diberikan di sekolah. ]ika
pengawasannya lemah, maka guru tidak dapat memastikan tentang 'bagaimana' atau
bahkan 'siapa' yang mengerjakan tugas tersebut;
Tingkatan fokus dan konsentrasi
berbeda; siswa yang memiliki tingkat konsentrasi dan fokus tinggi di kelas
belum tentu memiliki konsentrasi dan fokus yang sama ketika mereka berada di
luar kelas; kondisi dan suasana tinggal siswa sangat berpengaruh pada dua hal
di atas. Misalnya, apabila siswa tinggal di keluarga yang kurang harmonis atau
bahkan brokenhome, siswa cenderung kurang dapat mengerjakan tugas dengan
maksimal
Kecenderungan untuk berbuat curang.
Dengan penugasan yang dilakukan di luar pengawasan guru, maka muncul
kecenderungan untuk berbuat curang, seperti mencotek ke tugas teman, copy-paste
secara serampangan dari sumber-sumber yang tidak valid dan sebagainya.
Hal-hal yang Perlu Diperhatikan dalam
Pemberian Tugas
Untuk memastikan bahwa penugasan dapat
membantu siswa dalam memahami dan kemudian mengembangkan pemahaman siswa
terhadap suatu materi pelajaran tertentu, maka berikut adalah hal-hal yang
sebaiknya diperhatikan dalam pemberian tugas:
Tugas yang diberikan merupakan
pengembangan dari materi yang diberikan di kelas;
Pastikan siswa mengerti manfaat
dari penugasan yang akan mereka kerjakan, termasuk di antaranya adalah perihal
'kenapa' dan 'bagaimana
Durasi penugasan tidak terlalu lama
atau terlalu pendek, buatlah timing
pengerjaan tugas yang sederhana, tidak terlalu lama ataupun tidak terlalu
pendek. Hal ini akan menghindarkan siswa dari ' perasaan bosan, cemas, atau
bahkan takut;
Pastikan pula bahwa siswa memahami
cara penilaian dari tugas yang mereka kerjakan, sehingga siswa dapat menata
fokus dan konsentrasi mereka dengan lebih baik;
Apabila guru biasa memberi sanksi
pada siswa yang tidak mengerjakan tugas, atau tugas yang dikerjakan ternyata
jelek, maka guru harus membiasakan pula untuk memberi hadiah kepada , siswa
yang mengerjakan tugasnya dengan baik. Hal ini akan mendorong semangat siswa
untuk belajar secara aktif, mereka pun akan merasa dihormati dan dihargai jerih
payahnya.
Penerapan Metode Pemberian Tugas untuk
Meningkatkan HasilBelajar Pada Materi Penjumlahan Dan Pengurangan Pecahandi
Kelas V SDN 2 Bukit Harapan
Sutriani, Marinus Barra’ Tandiayuk, dan
Baharuddin Paloloang
Mahasiswa Program Guru Dalam Jabatan
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Universitas Tadulako
Mengatakan
bahwa :
Dengan menggunakan metode pemberian tugas, situasi kelas yang semula kurang aktif
setelah di terapkan metode pemberian tugas, kondisi kelas berubah menjadi aktif.
Penerapan metode pemberian tugas dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada materi
penjumlahan dan pengurangan pecahan di kelas V SDN 2 Bukit Harapan, dengan
persentase ketunasan klasikal pada siklus I yaitu 62,5% dan meningkat pada
siklus II menjadi 100%.
PENGARUH
METODE PEMBERIAN TUGAS DAN RESITASITERHADAP HASIL BELAJAR IPS SISWA PADA KELAS
VII
DI
MTs. DAARUL HIKMAH PAMULANG
Skripsi
Mengatakan
bahwa :
1. Hasil belajar IPS siswa di MTs.
Daarul Hikmah Pamulang adalah cukup baik. Dengan penjelasan bahwa (73%)
siswa menjawab pertanyaan dengan benar, dan (27%) siswa menjawab
tidak benar. Kemudian hasil belajar IPS siswa di MTsDaarul Hikmah Pamulang
memiliki nilai rata-rata 73,29.
2. Metode pemberian tugas dan
resitasi terhadap hasil belajar IPS siswa di MTs. Daarul Hikmah terdapat implikasi positif yang signifikan
antara metode pemberian tugas dan resitasi terhadap hasil belajar IPS
siswa dengan implikasi yang sedang atau cukup. Dan Metode Pemberian
Tugas Dan Resitasi memberikan kontribusi Terhadap Hasil Belajar
IPS Siswa Pada Kelas VII Di MTs. Daarul Hikmah Pamulang sebesar 18%
sedangkan selebihnya 82% dipengaruhi oleh faktor-faktor lain
yang perlu penelitian lebih lanjut.
.Daftar Pustaka
doc. pribadi
Anam Khoirul, M.A 2015,
Pembelajaran Berbasis Inkuiri Metode dan Aplikasi.
Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
M. Sumantri, Strategi Belajar
Mengajar (Bandung: CV . Maula…» 2001), hlm. 130.
N. K. Reestiyah, Strategi Belajar
Mengajar.
Zain, A., Djamarah, Strategi
Belajar Mengajar. hlm, 97.
Dalam pembelajaran ada banyak model, metode dan pendekatan dalam pembelajaran. Jerome bruner dalam Robert dan Kapuk Kaput, 1999 bahwa belajar adalah suatu proses aktif di mana siswa membangun atau mengkonstruksi pengetahuan baru berdasarkan pada pengalaman atau pengetahuan yang sudah dimilikinya dalam pandangan konstruktivisme belajar bukanlah semata-mata mentransfer pengetahuan yang ada di luar dirinya melainkan belajar lebih pada bagaimana otak memproses dan menginterpretasikan pengalaman yang baru dan pengetahuan yang sudah dimilikinya dengan format yang baru, proses-proses pembangunan ini bisa melalui asimilasi atau akomodasi (McMahon : 1999)
sumber : https://en.wikipedia.org/wiki/File:Jerome_Bruner_1936.png
Hakikat mengajar unsur terpenting dalam mengajar ialah merangsang serta mengarahkan siswa belajar mengajar pada hakikatnya tidak lebih dari sekedar menolong para siswa untuk memperoleh pengetahuan keterampilan sikap serta ide dan apresiasi yang menjurus kepada perubahan tingkah laku dan pertumbuhan siswa Subianto dalam bukunya halaman 30.
Sehingga guru memerlukan salah satu aspek yang penting untuk membuat proses pembelajaran yang baik di dalam kelas. Di era ini, pembelajaran paradigma pembelajaran sudah berubah di mana dahulu hanya guru yang memberikan ilmu dan berperan aktif dalam pembelajaran atau istilah lainnya guru yang menyuapi peserta didik (student center) tanpa peserta didik terlibat aktif dan ikut mengeksplorasikannya sehingga dapat lebih melekat/mengena di sanubari peserta didik sehingga dapat menjadi Long Term Memory (LTM).
Pengajaran terbalik merupakan satu pendekatan terhadap pengajaran siswa akan strategi belajar. Pengajaran terbalik adalah pendekatan konstruktivis yang berdasar pada prinsipprinsip pembuatan/ pengajuan pertanyaan, di mana keterampilan metakognitif diajarkan melalui pengajaran langsung dan pemodelan oleh guru untuk memperbaiki kinerja membaca siswa yang membaca pemahamannya ”rendah (Nur dan Wikandari, 2000: 16).
Dengan Pengajaran terbalik guru mengajarkan siswa keterampilan kognitif penting dengan menciptakan . pengalaman belajar, melalui pemodelan perilaku tertentu dan kemudian membantu siswa mengembangkan keterampilan tersebut atas usaha mereka sendiri dengan pemberian semangat, dukungan, dan suatu sistem scaffolding (Ann Brown, dan Annemarie Palincsar, dalam Nur, 2000: 48).
Pengajaran terbalik terutama dikembangkan untuk membantu guru menggunakan dialog belajar yang bersifat kerja sama untuk mengajarkan pemahaman bacaan secara mandiri di kelas. Melalui pengajaran terbalik siswa diajarkan empat strategi pemahaman pengaturan diri spesifik, yaitu perangkuman, pengajuan pertanyaan, pengklarifikasian, dan prediksi. Penggunaan pendekatan ini dipilih karena beberapa sebab, antara lain:
Merupakan kegiatan yang secara rutin digunakan pembaca.
Meningkatkan pemahaman maupun memberi pembaca peluang untuk memantau pemahaman sendiri.
Merupakan kegiatan yang secara rutin digunakan pembaca.
Meningkatkan pemahaman maupun memberi pembaca peluang untuk memantau pemahaman sendiri.
LANGKAH-LANGKAH
PEMBELAJARANNYA
Prosedur pengajaran terbalik dilakukan pertama-tama dengan guru menugaskan siswa membaca bacaan dalam kelompok kecil, kemudian guru memodelkan empat keterampilan (mengajukan pertanyaan yang bisa diajukan merangkum bacaan, mengklarifikasi poin poin yang sulit, berat, ataupun salah, dan meramalkan apa yang akan ditulis pada bagian bacaan berikutnya) (Nur, 2000:49).
Selanjutnya, guru menunjuk seorang siswa untuk menggantikan peranannya sebagai guru dan bertindak sebagai pemimpin diskusi dalam kelompok tersebut, dan guru beralih peran dalam kelompok tersebut Sebagai tersebut, dan guru beralih peran dalam kelompok tersebut sebagai motivator, mediator, pelatih, dan memberi dukungan, umpan balik, serta semangat bagi siswa. Secara bertahap dan berangsur-angsur guru mengalihkan tanggung jawab pengajaran yang lebih banyak kepada siswa dalam kelompok, serta membantu memonitor berpikir dan strategi yang digunakan.
Pada awal penerapan pengajaran terbalik guru memberitahukan akan memperkenalkan suatu pendekatan strategi belajar, menjelaskan tujuan, manfaat, dan prosedurnya. Selanjutnya mengawali pemodelan dengan membaca satu paragraf suatu bacaan kemudian menjelaskan dan mengajarkan bahwa pada saat atau selesai membaca terdapat kea giatan yang harus dilakukan, yaitu:
a. Memikirkan pertanyaan penting yang dapat diajukan dari apa yang telah dibaca; berkenaan dengan wacana, dan memastikan bisa menjawabnya.
https://id.pinterest.com/pin/48835977182387503/
b. Membuat ikhtisar/rangkuman tentang informasi terpenting dari wacana.
https://www.pinterest.com/pin/743868063421757143/
c. Memprediksi/meramalkan apa yang mungkin akan dibahas selanjutnya.
d. Mencatat apabila ada hal-hal yang kurang jelas atau tidak masuk akal dari suatu bagian, selanjutnya memeriksa apakah kita bisa berhasil membuat hal-hal itu masuk akal (Nur dan Wikandari, 2000: 20).
Setelah siswa memahami keterampilan di atas, guru akan menunjuk seorang siswa untuk menggantikan perannya dalam kelompok tersebut. Mula-mula ditunjuk siswa yang memiliki kemampuan memimpin diskusi, selanjutnya secara bergilir setiap siswa merasakan/ melakukan peran sebagai guru. Setelah sesi perkenalan berakhir, guru menjelaskan kepada siswa mengapa, kapan, dan bagaimana strategi tersebut digunakan.
https://id.pinterest.com/pin/431430839276239023/
2. Prosedur Harian
from youtube.com
“Dalam tahap kelanjutan pelaksanaannya Pengajaran Terbalik melalui prosedur harian sebagai berikut: (Nur dan Wikandari, 2000: 22)
1. Disediakan teks bacaan. sesuai materi yang hendak diselesaikan. '
2. Dijelaskan bahwa pada segmen pertama guru bertindak sebagai guru (model).
3. Siswa diminta membaca dalam hati bagian teks yang ditetapkan. Untuk memudahkan mula-mula bekerja paragraf demi paragraf.
4. ]ika siswa telah menyelesaikan bagian pertama, dilakukan pemodelan berikut ini:
a. Pertanyaan yang saya perkirakan akan ditanyakan guru adalah:
b. Guru memberikan kesempatan siswa menjawab pertanyaan tersebut.
Bila perlu mereka boleh mengacu pada teks dengan kalimatnya sendiri
c. Merangkum pokok pikiran yang terdapat dalam paragraf/subbab.
Bila perlu dapat menunjuk salah seorang siswa untuk membacakan rangkumannya.
d. Memberikan kesempatan siswa untuk memprediksikan hal yang akan dibahas pada paragraf
selanjutnya.
e. Memberikan kesempatan siswa mengajukan komentar atau menemukan hal yang tidak jelas pada
bacaan.
5. Siswa diminta untuk memberikan komentar tentang pengajaran yang baru berlangsung dan mengenai bacaan.
6. Segmen berikutnya dilanjutkan dengan bagian bacaan/paragraf berikutnya, dan dipilih satu siswa yang akan berperan sebagai “guru-siswa”.
7. Siswa dilatih/ diarahkan berperan sebagai “guru-siswa” sepanjang kegiatan itu. Mendorong siswa lain untuk berperan serta dalam dialog, namun selalu memberi “guru-siswa”itu untuk kesempatan memimpin dialog. Memberikan banyak umpan balik dan pujian kepada “guru-siswa” untuk peran sertanya.
8. Pada hari-hari berikutnya, semakin lama guru mengurangi peran dalam dialog, sehingga “guru-siswa” dan siswa lain itu berinisiatif sendiri menangani kegiatan itu.
Kelebihan
dan Kekurangannya
Kelebihan Reciprocal Teaching
Melatih kemampuan peserta didik belajar
mandiri, sehingga peserta didik dalam belajar mandiri dapat ditingkatkan
Melatih peserta didik untuk menjelaskan
kembali materi yang dipelajari kepada pihak lain. Dengan demikian penerapan
pembelajaran ini dapat dipakai untuk melatih peserta didik tampil di depan umum
Orientasi pembelajaran adalah investigasi dan
penemuan yang pada dasarnya adalah pemecahan masalah. Dengan demikian kemampuan
bernalar peserta didik juga semakin berkembang
Mempertinggi kemampuan peserta didik dalam
memecahkan masalah.
Kelemahan Reciprocal Teaching
Reciprocal teaching menuntut peserta
didik untuk selalu aktif dalam kegiatan pembelajaran, sehingga hal ini
menjadikan sebagian dari peserta didik tidak percaya diri untuk dapat tampil
atau menunjukkan kemampuannya di depan teman-teman mereka, dan bisa jadi
peserta didik yang aktif hanyalah orang-orang itu saja. Dengan demikian,
peserta didik yang belum bisa percaya diri merasa kesulitan dalam menerima
pelajaran.
Referensi Makalah®
Kepustakaan:
Amin Suyitno, Dasar-dasar dan Proses
Pembelajaran Matematika 1, (Semarang: UNNES, 2001). Trianto, Mendesain Model
Pembelajaran Inovatif Progresif: Konsep Landasan dan Implementasinya, (Jakarta:
Kencana, 2010).
Pengaruh Model Pembelajaran Reciprocal Teaching
terhadap Pemahaman Bacaan Ditinjau dari Konsep Diri Akademik Siswa
Oleh: Ni Ketut Noriasih
Prodi Bahasa Konsentrasi Bahasa Indonesia
mengatakan bahwa :
Pertama, terdapat perbedaan pemahaman bacaan antara siswa yang mengikuti model
pembelajaran reciprocal teaching dibandingkan dengan yang mengikuti model pembelajaran
konvensional pada siswa kelas VII SMP Lab. Undiksha Singaraja (F=5,584; p< 0,05). Rata-rata
pemahaman bacaan siswa yang mengikuti model pembelajaran reciprocal teaching
sebesar 57,41 lebih tinggi dibandingkan dengan yang mengikuti model pembelajaran
konvensional yaitu sebesar 51,59.
Kedua, pada siswa yang memiliki konsep diri tinggi tidak terdapat perbedaan
pemahaman bacaan siswa antara siswa yang mengikuti model pembelajaran reciprocal
teaching dan model pembelajaran konvensional pada siswa kelas VII SMP Lab. Undiksha
Singaraja (F= 1,697; p>0,05). Rata-rata pemahaman bacaan siswa yang mengikuti model
pembelajaran reciprocal teaching sebesar 58,61 lebih tinggi dibandingkan dengan yang
mengikuti model pembelajaran konvensional yaitu sebesar 52,22.
Ketiga, pada siswa yang memiliki konsep diri rendah terdapat perbedaan pemahaman
bacaan siswa antara yang mengikuti model pembelajaran reciprocal teaching dengan yang
mengikuti model pembelajaran konvensional pada siswa kelas VII SMP Lab. Undiksha
Singaraja (F=4,565; p<0,05). Rata-rata pemahaman bacaan siswa yang mengikuti model
pembelajaran reciprocal teaching sebesar 55,55 lebih tinggi dibandingkan dengan yang
mengikuti model pembelajaran konvensional yaitu sebesar 46,94.
Hal ini dapat dikatakan bahwa model
pembelajaran reciprocal teaching lebih unggul dibandingkan model pembelajaran
konvensional dalam meningkatkan pemahaman bacaan siswa, baik untuk kelompok konsep
diri tinggi maupun konsep diri rendah.
berdasarkan penelitian lainnya:
PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN RECIPROCAL TEACHING UNTUK
MENINGKATKAN PEMAHAMAN KONSEP MATEMATIKA SISWA KELAS VII SMP NEGERI 2 DEPOK
Tatag Bagus Argikas , Nanang Khuzaini
Prodi Pendidikan Matematika Fakultas Ilmu Keguruan dan
Pendidikan,
Universitas Mercu Buana
Yogyakarta, 1argikas@gmail.com
mengatakan bahwa :
1. Pembelajaran dengan model Reciprocal
Teaching yang dapat meningkatkan
pemahaman konsep matematika siswa kelas
VII SMP Negeri 2 Depok adalah dengan
mengelompokkan siswa dan diskusi
kelompok, membuat pertanyaan,
menyajikan hasil kerja kelompok,
mengklarifikasi permasalahan,
menyimpulkan materi yang dipelajari,
memberikan soal test.
2. Penggunaan model pembelajaran Reciprocal
Teaching dapat meningkatkan pemahaman
konsep matematika siswa kelas VIIA SMP
Negeri 2 Depok khususnya pada materi
Segitiga dan Segiempat. Rata-rata
pemahaman konsep matematika siswa pada
tes pra penelitian dari nilai UTS yaitu 72,19
dan sebesar 45,16% siswa, nilai rata-rata tes
pemahaman konsep tindakan mengalami
peningkatan pada siklus I yaitu dengan rata-rata pemahaman konsep 75,61 dan sebesar
70,96% siswa, dan rata-rata pemahaman
konsep meningkat lagi pada siklus II yaitu
menjadi 88,58 dan sebesar 90,32% siswa.
Adapun peningkatan persentase pemahaman
konsep dari masing-masing indikator.
Persentase indikator menyatakan ulang
sebuah konsep meningkat dari 86,02%
menjadi 89,24%, persentase indikator
mengklasifikasikan obyek-obyek menurut
sifat-sifat tertentu (sesuai dengan
konsepnya) meningkat dari 78,09% menjadi
80,10%, persentase indikator memberi
contoh dan non-contoh dari konsep
meningkat dari 84,95% menjadi 89,24%,
persentase indikator menyajikan konsep
dalam berbagai bentuk representasi
matematis meningkat dari 89,03% menjadi
90,86%, persentase indikator
mengembangkan syarat perlu atau syarat
cukup suatu konsep meningkat dari 62,10%
menjadi 86,02%, persentase indikator
menggunakan, memanfaatkan, dan memilih
prosedur atau operasi tertentu meningkat
dari 79,57% menjadi 90,05%, persentase
indikator mengaplikasikan konsep atau
algoritma pemecahan masalah meningkat dari
75,48% menjadi 89,35%
Daftar Pustaka
doc. pribadi
Al-Tabany, Trianto Ibnu Badar. 2014. Mendesain Model Pembelajaran Inovatif,
Progresif, dan Kontekstual. Jakarta: Prenadamedia Group.